Jakarta – Pemerintah Singapura mulai mencermati kebijakan baru Indonesia yang memusatkan ekspor sejumlah komoditas strategis melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Kebijakan tersebut mencakup ekspor minyak sawit mentah (CPO), batu bara, hingga paduan besi yang akan dikelola melalui satu pintu.
Deputi Perdana Menteri sekaligus Menteri Perdagangan dan Industri Singapura, Gan Kim Yong, mengatakan setiap negara berhak menentukan arah kebijakan ekonominya. Namun, Singapura berharap perubahan tata kelola ekspor tersebut tidak menghambat kelancaran arus perdagangan antara kedua negara.
Menurut Gan, pemerintahnya akan terus menjalin komunikasi dengan Indonesia dan pelaku usaha untuk memastikan akses terhadap komoditas strategis asal Indonesia tetap berjalan dengan baik.
“Kami akan terus bekerja sama dengan dunia usaha untuk mencari solusi terbaik sehingga hubungan perdagangan dan akses ekspor tetap berjalan lancar,” ujarnya usai pertemuan Six Bilateral Economic Working Groups (6WG) Indonesia-Singapura di Jakarta.
Gan menilai ketahanan rantai pasok menjadi isu penting yang harus dijaga di tengah ketidakpastian ekonomi global. Karena itu, penguatan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Singapura menjadi salah satu fokus pembahasan dalam pertemuan bilateral tersebut.
Ia menegaskan Singapura tetap melihat Indonesia sebagai mitra ekonomi yang sangat strategis. Di tengah perubahan kebijakan ekspor, minat investor Negeri Singa untuk menanamkan modal di Indonesia disebut masih tinggi.
Gan menyebut fundamental ekonomi Indonesia masih kuat karena didukung sumber daya alam yang melimpah, ketersediaan tenaga kerja, serta peluang investasi yang besar di berbagai sektor.
Data investasi menunjukkan Singapura masih menjadi investor asing terbesar di Indonesia. Sepanjang 2025, nilai investasi Singapura di Indonesia tercatat mencapai sekitar US$17,4 miliar.
“Kami tetap berkomitmen menjadi mitra yang andal dan bernilai bagi Indonesia,” katanya.
Kebijakan ekspor satu pintu melalui DSI sebelumnya memicu perhatian sejumlah pelaku usaha internasional karena berpotensi mengubah pola perdagangan komoditas strategis Indonesia yang selama ini menjadi pemasok penting bagi berbagai negara, termasuk Singapura.
















