Kampar, Lintasmata.com – Malam takbiran selalu identik dengan gema takbir dan kebahagiaan. Namun di Kampar, malam itu justru menyisakan duka. Aiptu Apendra, anggota Polsek Kampar, meninggal dunia setelah menjalankan tugas mengamankan masyarakat di tengah situasi yang memanas akibat perang mercun.
Apendra bertugas Jumat (20/3/2026) malam. Ia menjalankan piket fungsi bersama personel lain untuk memastikan malam takbiran berlangsung aman. Seperti biasa, ia turun langsung ke lapangan, berada di tengah masyarakat, memantau situasi, dan siap bertindak jika terjadi gangguan.
Sekitar pukul 01.00 WIB, situasi di Lapangan Kantor Camat Kampar berubah. Kerumunan warga terlibat perang mercun. Suasana menjadi riuh dan berpotensi membahayakan. Apendra bersama anggota lain segera bergerak. Ia tidak menunggu, ia langsung ikut menertibkan.
Di tengah upaya pembubaran itu, kondisi tubuhnya mulai melemah. Ia merasakan sakit akibat riwayat asam lambung yang selama ini dideritanya. Meski begitu, ia tetap berada di lokasi hingga akhirnya tak mampu lagi menahan rasa sakit.
Ia memberi tahu rekannya. Tanpa menunda, anggota lain langsung mengevakuasinya dari kerumunan. Situasi saat itu masih padat oleh warga yang menyaksikan perang mercun, membuat proses evakuasi tidak mudah.
Rekan-rekannya berusaha secepat mungkin mencari pertolongan. Mereka membawa Apendra ke fasilitas kesehatan terdekat. Namun keterbatasan peralatan membuat tenaga medis menyarankan rujukan lanjutan.
Apendra kemudian dibawa ke Puskesmas Kampa. Harapan kembali muncul, namun kondisi medis memaksa tenaga kesehatan kembali merujuknya ke rumah sakit di Pekanbaru.
Ambulans melaju di dini hari, membelah jalan menuju Rumah Sakit Aulia Hospital. Di dalam ambulans, rekan-rekannya terus mendampingi. Mereka berharap waktu masih berpihak.
Sekitar pukul 02.30 WIB, Apendra tiba di rumah sakit dan langsung mendapat penanganan di ruang IGD. Namun, tak lama kemudian, tepat pukul 02.39 WIB, dokter menyatakan ia telah meninggal dunia.
Kepergian Apendra terjadi di saat ia menjalankan tugas. Ia tidak sedang beristirahat, tidak sedang bersama keluarga, tetapi berada di lapangan, memastikan masyarakat tetap aman.
Kabar duka itu cepat menyebar. Di rumah, seorang istri menunggu tanpa menyangka malam itu akan menjadi berbeda. Seorang anak perempuan kehilangan sosok ayah yang selama ini menjadi pelindung.
Sebagai bentuk penghargaan atas pengabdiannya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan kenaikan pangkat luar biasa anumerta kepada Apendra. Penghargaan itu menjadi simbol bahwa negara hadir dan menghargai setiap pengorbanan anggotanya.
Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan menegaskan bahwa penghargaan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan pengingat akan dedikasi yang ditunjukkan almarhum.
“Penghargaan ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang dedikasi dan pengorbanan almarhum dalam menjalankan tugas menjaga keamanan masyarakat,” ujarnya.
Apendra lahir 24 Februari 1984. Ia dikenal sebagai sosok yang sederhana dan bertanggung jawab dalam tugasnya. Rekan-rekannya mengenalnya sebagai anggota yang selalu siap turun ke lapangan.
Kini, Apendra telah dimakamkan secara kedinasan di Kabupaten Kampar. Upacara itu menjadi penghormatan terakhir atas pengabdian yang ia jalani hingga akhir.
Tidak ada yang menginginkan peristiwa seperti ini terjadi. Namun, kisah Apendra menjadi pengingat bahwa di balik setiap pengamanan, ada petugas yang bekerja dalam sunyi, menghadapi risiko, dan tetap berdiri hingga batas terakhir.




















